Bandung (BRS) – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menilai kehadiran APINDO Expo & UMKM Fair 2025 bukan sekadar ajang promosi bisnis, melainkan forum strategis untuk memperkuat sinergi antar pemangku kepentingan.
“Tugas saya adalah mengorkestrasi seluruh pihak agar sejalan. Hasilnya? Jawa Barat jadi provinsi dengan investasi tertinggi, yaitu Rp72,5 triliun,” kata Dedi di hadapan pelaku usaha dan pejabat pusat.
Menurutnya, keberhasilan itu bukan terjadi begitu saja. Ada serangkaian langkah konkret yang dilakukan untuk memastikan iklim usaha di Jabar tetap kondusif. Dari penertiban premanisme di kawasan industri, penyederhanaan izin lokasi dan lingkungan hidup, hingga penanganan masalah lahan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Satu bidang tanah 5 hektare bisa menghambat pengembangan kawasan industri seluas 400 hektare. Tapi kami selesaikan lewat komunikasi, bukan konflik,” ucapnya.
Dedi juga menyinggung transformasi industri di wilayahnya. Ia mencatat pergeseran tren di mana industri padat karya kini lebih banyak berkembang di bagian timur seperti Indramayu, Majalengka, dan Kuningan, sementara industri padat modal tumbuh pesat di Subang dan Karawang.
Namun, tantangan tetap ada, terutama soal kesiapan tenaga kerja lokal. Ia mengungkap masih banyak warga yang belum memenuhi standar kompetensi industri, bahkan untuk kemampuan dasar.
“Masih ada warga Karawang yang ditolak kerja karena lemah matematika dasar. Ini bukan salah mereka. Makanya kami siapkan kursus kilat belajar tambah-kurang-kali-bagi supaya mereka siap kerja,” katanya.
Baginya, pertumbuhan investasi tidak cukup hanya dengan insentif dan infrastruktur. Ketersediaan sumber daya manusia (SDM) berkualitas lokal menjadi penentu apakah investasi bisa benar-benar menyejahterakan masyarakat.
















