Bandung (BRS) – Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar) terus memperkuat posisinya sebagai pusat pertumbuhan ekonomi nasional melalui strategi investasi yang berkelanjutan dan berorientasi pada penciptaan lapangan kerja. Hingga triwulan III tahun 2025, realisasi investasi di Jawa Barat mencapai Rp218,2 triliun, atau sekitar 15,2 persen dari total nasional, menjadikan Jabar sebagai provinsi dengan investasi terbesar di Indonesia.
Namun, bagi Pemprov Jabar, angka besar tersebut bukan sekadar catatan statistik. Di baliknya, terdapat dampak nyata terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat. Selama Januari–September 2025, investasi yang masuk telah menyerap 303.469 tenaga kerja baru, meningkat 4,45 persen dibandingkan tahun lalu. Dari total itu, 175.385 orang bekerja di proyek Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan 128.084 orang di proyek Penanaman Modal Asing (PMA).
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jabar, Dedi Taufik, mengatakan keberhasilan ini merupakan hasil dari kombinasi antara peningkatan pelayanan investasi, kepastian hukum, dan infrastruktur penunjang yang semakin matang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kami tidak hanya mengejar besarannya, tetapi juga kualitas investasi. Fokusnya adalah menghadirkan investasi yang berdampak pada penciptaan kerja, penguatan industri lokal, serta pengembangan teknologi hijau dan digital,” ujar Dedi di Bandung, Jumat akhir pekan lalu.
Salah satu contoh investasi berkualitas tinggi adalah masuknya perusahaan kendaraan listrik BYD di Kabupaten Subang, yang telah menyerap lebih dari 4.500 tenaga kerja terampil bersertifikat. Kehadiran pabrikan otomotif berbasis energi bersih ini menjadi penanda pergeseran arah investasi Jawa Barat menuju ekonomi hijau dan industri masa depan.
Selain itu, pengembangan kawasan industri strategis seperti Rebana Metropolitan, Bekasi, dan Bandung Raya terus dipacu untuk menarik investor global. Ketiga kawasan ini dirancang dengan konsep smart and green industrial area, memadukan efisiensi energi, digitalisasi proses produksi, serta konektivitas transportasi dan logistik modern.
Untuk mendukung kemudahan berusaha, Pemprov Jabar juga meluncurkan berbagai inovasi digital, salah satunya sistem KUJANG (Kumpulan Layanan Perizinan Jawa Barat Terintegrasi). Platform ini memungkinkan pelaku usaha mengurus seluruh perizinan secara daring, cepat, dan transparan, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota.
“Kami ingin memastikan bahwa berinvestasi di Jabar itu mudah, aman, dan menguntungkan. Sistem digital ini akan memangkas birokrasi dan memperkuat kepercayaan investor terhadap tata kelola pemerintahan,” tambah Dedi.
Dengan capaian yang konsisten, Jawa Barat kini dipandang sebagai lokomotif utama investasi nasional, sekaligus model daerah dengan tata kelola investasi berbasis keberlanjutan. Pemprov Jabar menargetkan peningkatan investasi hingga akhir tahun, seiring dengan rencana masuknya beberapa proyek strategis baru di bidang energi terbarukan, farmasi, dan teknologi informasi.
“Investasi yang baik adalah yang memberi manfaat luas bagi masyarakat. Karena itu, setiap proyek yang masuk harus membawa multiplier effect terhadap ekonomi lokal dan kesejahteraan warga,” tutup Dedi.
Dengan pendekatan yang mengedepankan inovasi, efisiensi, dan keberlanjutan, Jawa Barat bukan hanya menjadi destinasi investasi terbesar, tetapi juga pelopor transformasi ekonomi hijau dan inklusif di Indonesia.
















