Jakarta (BRS) – PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat Kereta Petani dan Pedagang telah melayani 11.428 pelanggan di lintas Commuter Line Merak sejak beroperasi pada 1 Desember 2025 hingga 17 Februari 2026.
Capaian tersebut menunjukkan layanan khusus distribusi komoditas lokal tersebut dimanfaatkan secara konsisten oleh masyarakat selama lebih dari dua bulan operasional.
Dalam keterangan resminya, Rabu(18/2/2026), Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, mengungkapkan, Stasiun Cikeusal menjadi titik aktivitas tertinggi dengan 3.730 pelanggan naik dan 3.511 pelanggan turun, menegaskan perannya sebagai simpul distribusi hasil pertanian, olahan makanan, dan produk kerajinan menuju Serang, Cilegon, serta Merak.
Anne mengatakan, kereta Petani dan Pedagang merupakan karya modifikasi Balai Yasa Surabaya Gubeng yang meliputi penataan interior, penyediaan ruang bagasi terpisah, peningkatan keselamatan, serta penyesuaian akses naik turun di sejumlah stasiun.
“Pengerjaan dilakukan tenaga teknis internal dengan fokus pada kebutuhan pelanggan yang membawa barang dagangan,” kata Anne.
Secara operasional, kereta berkapasitas 73 tempat duduk ini menjalani 14 perjalanan harian dengan rincian 7 perjalanan Merak–Rangkasbitung dan 7 perjalanan Rangkasbitung–Merak, dan melayani 11 stasiun.
“Setiap pelanggan diperkenankan membawa maksimal dua koli berukuran 100 cm x 40 cm x 30 cm untuk menjaga ketertiban perjalanan,” ungkapnya.
Layanan ini merupakan kolaborasi KAI Group bersama Direktorat Jenderal Perkeretaapian melalui skema Public Service Obligation (PSO) dengan tarif Rp3.000, sehingga tetap terjangkau bagi petani dan pedagang kecil dalam mendistribusikan hasil usaha.
Anne menyampaikan modifikasi Balai Yasa Surabaya Gubeng menunjukkan kesiapan fasilitas perawatan sarana dalam menghadirkan layanan berbasis kebutuhan masyarakat.
“KAI akan terus melakukan evaluasi dan koordinasi operasional berdasarkan data perjalanan serta respons pelanggan guna menjaga kualitas layanan di lintas Merak,” tutup Anne.






