Jakarta (BRS) – Upaya memperkuat kedaulatan vaksin nasional terus dilakukan Bio Farma melalui peluncuran Bio-TCV, vaksin tifoid konjugat produksi dalam negeri yang diharapkan mampu memperluas perlindungan masyarakat terhadap demam tifoid sekaligus memperkuat ekosistem vaksin nasional.
Peluncuran Bio-TCV menjadi penanda bahwa pengembangan vaksin di Indonesia tidak hanya berfokus pada kemampuan produksi, tetapi juga pada penguasaan teknologi, riset, pemenuhan standar regulasi, hingga perluasan akses masyarakat terhadap vaksin yang aman dan bermutu.
Direktur Komersial Bio Farma, Fitri Puspadewi, mengatakan Bio-TCV dikembangkan dengan mengedepankan empat prinsip utama, yakni ketersediaan, kemudahan akses, keterjangkauan, dan penerimaan masyarakat.
Menurutnya, Bio Farma terus memperkuat kapasitas produksi nasional agar pasokan vaksin tetap terjaga, sekaligus membuka peluang pemanfaatannya dalam Program Imunisasi Nasional setelah melalui kajian pemerintah.
“Kami memastikan Bio-TCV tersedia secara berkelanjutan melalui penguatan kapasitas produksi nasional sebagai fondasi kemandirian vaksin Indonesia. Kami juga terus memperluas akses serta menghadirkan vaksin berkualitas dengan harga yang kompetitif agar semakin banyak masyarakat mendapatkan perlindungan dari tifoid,” ujar Fitri usai peluncuran, Kamis (16/7) lalu.
Sementara itu, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI Taruna Ikrar menegaskan dukungan terhadap pengembangan vaksin nasional tetap mengedepankan aspek mutu, keamanan, dan khasiat sesuai standar internasional.
Menurutnya, pengakuan BPOM sebagai WHO Listed Authority menjadi bukti sistem regulasi vaksin Indonesia telah diakui dunia dan mampu meningkatkan kepercayaan terhadap produk vaksin dalam negeri.
Di sisi lain, Plt Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan RI Andi Saguni mengingatkan bahwa penanganan demam tifoid tidak cukup hanya melalui vaksinasi. Upaya tersebut harus berjalan beriringan dengan peningkatan sanitasi, penyediaan air bersih, edukasi masyarakat, deteksi dini, hingga tata laksana medis yang tepat.
“Pencegahan tifoid harus dilakukan secara komprehensif melalui perbaikan sanitasi, keamanan pangan, edukasi masyarakat, surveilans yang kuat, serta vaksinasi sesuai rekomendasi dan kebijakan yang berlaku,” jelas Andi.
Bio-TCV sendiri telah melewati proses pengembangan sejak 2013 melalui kerja sama riset dan alih teknologi. Vaksin ini juga telah menjalani uji praklinis serta uji klinis fase I, II, dan III yang melibatkan lebih dari 3.000 partisipan berusia enam bulan hingga 60 tahun sebelum memperoleh izin edar dari BPOM pada Agustus 2023.
Sebagai bagian dari ekosistem Danantara, Bio Farma kini juga meningkatkan kapasitas fasilitas produksi vaksin berbasis teknologi konjugasi untuk memenuhi kebutuhan nasional sekaligus membuka peluang ekspor melalui proses WHO Prequalification dan registrasi di berbagai negara.







