Pemkot Bandung Harus Ciptakan Kota Ramah Anak Dan Perempuan

Jumat, 6 Desember 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bandung (BRS) – Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Bandung bersama Forum Partisipasi Publik untuk Kesejahteraan Perempuan dan Anak (Puspa) Kota Bandung, menyelenggarakan Seminar “Pencegahan Tindak kekerasan Kepada Perempuan dan Anak di Kota Bandung Tahun 2024” di Hotel Oakwood Merdeka Jln  Jawa Kota Bandung, Kamis (5/12/2024).

Seminar ini dihadiri puluhan organisasi atau komunitas perempuan dan majelis taklim di Kota Bandung.

Kepala DP3A Kota Bandung, Uum Umiati mengatakan, Forum Puspa dibentuk dengan tujuan untuk memperkuat peran serta masyarakat dalam upaya mewujudkan kesetaraan gender, mendorong kesejahteraan perempuan dan meperkuat perlindungan anak.

Uum optimis, Pemkot Bandung mampu menciptakan kota Bandung yang lebih ramah dan mendukung kesejahteraan perempuan dan anak.

Terkait kekerasan terhadap perempuan dan anak, Uum mengatakan, Kota Bandung tertinggi se-Jawa Barat.

Kasus kekerasan terhadap perempuan di Kota Bandung dalam lima tahun terakhir mengalami fluktuasi. pada tahun 2022 mengalami kenaikan, namun di tahun 2023 mengalami penurunan. Berbeda dengan kasus kekerasan terhadap anak yang tidak pernah turun, justru naik.

Uum mengatakan, Pemkot Bandung akan terus berupaya mencegah, mengendalikan, dan menekan tingkat kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Sedangkan, Ketua Forum Puspa Kota Bandung, Salmiah Rambe mengatakan, Forum Puspa Kota Bandung mempunyai visi mewujudkan kesejahteraan perempuan dan anak menuju Kota Bandung ramah perempuan dan peduli anak.

Sedangkan misinya adalah, meningkatkan partisipasi publik dalam pemberdayaan perempuan dan pemenuhan hak anak, mendorong penguatan kelembagaan yang berprespektif pemberdayaan perempuan, serta melakukan monitoring dan keberlanjutan program pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak.

“Sebagai organisasi yang masih muda, Forum Puspa Kota Bandung telah merancang sejumlah program kerja, di antaranya pendampingan Desa atau Kelurahan Ramah Perempuan dan Peduli Anak (DRPPA)’, pembentukan Forum Puspa tingkat kelurahan, sosialiasasi dan advokasi hak perempuan dan anak, pelatihan kewirausahaan perempuan, peningkatan kapasitas perempuan dalam Keluarga dan pengasuhan, layanan konseling untuk orangtua anak’, dan sosialisasi melalui sosial media.

Sementara itu, Dadi Suhanda sebagai salah satu narasumber dalam seminar tersebut mengatakan, pendekatan perlindungan anak di perkotaan melibatkan tiga aspek utama, yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat.

“Integrasi ketiga aspek ini penting untuk menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung tumbuh kembang anak,” kata Dadi dalam paparannya.

“Perlindungan berbasis keluarga dengan memperkuat peran keluarga sebagai lini pertama perlindungan anak melalui edukasi dan dukungan,” ucapnya lagi.

Sekain itu, ada juga perlindungan bebasis sekolah dengan menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan responsif terhadap kebutuhan perlindungan anak.

“Juga perlindungan berbasis masyarakat dengan membangun kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam melindungi anak-anak di lingkungan perkotaan,” imbuhnya.

Sementara itu, narasumber Evie Dewi Susantiany mengatakan, kekerasan terhadap perempuan dan anak bisa dicegah, diantaranya dengan menerapkan musyawarah dan menghindari komunikasi yang merendahkan.

“Sedangkan dalam pendidikan, dianjurkan untuk mengajarkan empati dan menghindari disiplin dengan kekerasan,” kata Evie.

Dalam masyarakat, Evie mengungkapkan dengan edukasi dan membangun kesadaran publik serta pengembangan program pencegahan kekerasan berbasis agama.

Evie menyarankan, setiap keluarga mempunyai visi misi keluarga, membangun komunikasi efektif dan positif, menjaga ibadah dan spiritual keluarga, serta menjadikan rumah sebagai tempat ternyaman bagi seluruh keluarga.

“Bagi perempuan yang menjadi korban kekerasan, laporkan ke lembaga anti-KDRT, cari dukungan dari keluarga atau sahabat, dan konsultasi pada ahli jika sudah berdampak pada Kesehatan mental,” ungkapnya.

“Untuk anak-anak, jika mereka sebagai korban, maka lakukan validasi emosinya. Jika anak sebagai pelaku, maka edukasi dengan nilai-nilai agama. Baik anak sebagai korban maupun pelaku, sebaiknya konsultasi pada ahli jika sudah berdampak pada Kesehatan mental,” pungkasnya.

Berita Terkait

Bio Farma Mulai Operasikan Fasilitas CNG, Pangkas Emisi dan Tingkatkan Efisiensi Energi
PT KAI Daop 2 Bandung Apresiasi Dukungan Gubernur Jabar Untuk Keselamatan Perjalanan Kereta
1.147 Mahasiswa UPI Diterjunkan ke Sekolah, Bantu Atasi Kekurangan Guru di Jawa Barat
AAF 2026, Teguhkan Semangat Kolaborasi Global, Keberlanjutan, dan Inklusivitas
Dua Hari Menjadi “Jepang” di Cikarang: Saat Sakura Matsuri Menyatukan Budaya, Industri, dan Generasi Muda
Diplomasi Kopi Warnai Asia Africa Festival 2026, Bandung Perkuat Kerja Sama Antarbangsa
Len Kembangkan Advanced Materials, Dari Tambang ke Produk Teknologi Tinggi
3.500 Warga Bandung Ikuti Pelatihan Kerja Gratis, Siap Jadi Pencari Kerja dan Wirausahawan

Berita Terkait

Kamis, 16 Juli 2026 - 12:24 WIB

Bio Farma Mulai Operasikan Fasilitas CNG, Pangkas Emisi dan Tingkatkan Efisiensi Energi

Rabu, 15 Juli 2026 - 12:23 WIB

PT KAI Daop 2 Bandung Apresiasi Dukungan Gubernur Jabar Untuk Keselamatan Perjalanan Kereta

Selasa, 14 Juli 2026 - 12:21 WIB

1.147 Mahasiswa UPI Diterjunkan ke Sekolah, Bantu Atasi Kekurangan Guru di Jawa Barat

Senin, 13 Juli 2026 - 12:20 WIB

AAF 2026, Teguhkan Semangat Kolaborasi Global, Keberlanjutan, dan Inklusivitas

Minggu, 12 Juli 2026 - 18:34 WIB

Dua Hari Menjadi “Jepang” di Cikarang: Saat Sakura Matsuri Menyatukan Budaya, Industri, dan Generasi Muda

Berita Terbaru