Priangan Timur (BRS) – Musim kemarau yang berlangsung panjang mulai menekan kehidupan warga di sejumlah daerah Priangan Timur. Di Kabupaten Pangandaran, Ciamis, Kota Tasikmalaya, hingga Kabupaten Tasikmalaya, ribuan keluarga kesulitan mendapatkan air bersih setelah sumur dan sumber mata air mengering.
Kondisi tersebut membuat pemerintah daerah bersama BPBD, TNI, Polri, Tagana, serta unsur terkait harus meningkatkan distribusi air bersih ke wilayah terdampak.
Di Kabupaten Pangandaran, kekeringan telah meluas ke 23 desa yang tersebar di sembilan kecamatan. BPBD setempat bersama Tagana dan Dinsos P3A terus menyalurkan bantuan berdasarkan permintaan warga.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pangandaran Dodo Kusnadi mengatakan, hingga pekan lalu sebanyak 425.000 liter air bersih telah didistribusikan ke sejumlah wilayah yang mengalami krisis air.
“Kami sudah menyuplai air bersih berdasarkan permintaan ke sejumlah desa,” kata Dodo, akhir pekan lalu.
Sementara di Kabupaten Ciamis, dampak kemarau tercatat terjadi di 15 kecamatan, 22 desa, dan 38 dusun. Sebanyak 4.323 kepala keluarga atau 11.160 jiwa terdampak kesulitan memperoleh air bersih.
BPBD Ciamis telah menyalurkan 255.000 liter air melalui 45 tangki distribusi. Penanganan juga dilakukan secara cepat oleh kepolisian dan tim gabungan, termasuk distribusi 4.000 liter air ke Lingkungan Cimandala, Kelurahan Benteng.
Kepala Pelaksana BPBD Ciamis Ani Supiani meminta pemerintah desa tidak ragu melaporkan kondisi wilayahnya ketika krisis air semakin parah.
“Masyarakat tidak perlu menunggu proses administrasi yang panjang ketika kondisi sudah mendesak. BPBD akan melakukan asesmen cepat di lapangan sebelum bantuan air dikirimkan,” ujarnya.
Di Kota Tasikmalaya, krisis air bahkan mulai berdampak pada sektor pertanian. Sebanyak 8.801 KK atau 29.156 jiwa di 24 kelurahan pada delapan kecamatan mengalami kelangkaan air. Pemkot Tasikmalaya menetapkan status siaga darurat hingga September 2026 dengan anggaran penanganan Rp1,9 miliar.
Sekda sekaligus Kalak BPBD Kota Tasikmalaya Asep Goparullah mengatakan kemarau tidak hanya menyulitkan warga mendapatkan air, tetapi juga mengganggu aktivitas pertanian.
“Yang terjadi saat ini bukan hanya krisis air bersih. Dampak El Nino juga menyebabkan gagal tanam, puso, hingga lahan pertanian sulit diolah,” katanya.
Kondisi serupa terjadi di Kabupaten Tasikmalaya. Kecamatan Tanjungjaya, misalnya, sudah tiga bulan tidak diguyur hujan. Sumur dan mata air mengering sehingga warga harus menempuh jarak jauh untuk mendapatkan air.
Polsek Tanjungjaya bersama Koramil, pemerintah kecamatan, dan Tagana kemudian menyalurkan 5.000 liter air bersih.
“Warga sebelumnya harus menempuh jarak sangat jauh membawa jerigen maupun galon untuk mengambil air. Pendistribusian air bersih ini akan terus berlanjut secara berkala selama sumber mata air di Tanjungjaya masih mengering,” pungkasnya.






