Bandung (BRS) – Di tengah riuh modernitas kota, denyut budaya tradisi kembali menggema. Paguyuban Perantau Purbalingga (Papeling) Koordinator Wilayah Bandung bersiap menggelar pertunjukan wayang kulit khas Purbalingga sebagai puncak peringatan satu dekade kiprahnya di tanah rantau. Lebih dari sekadar perayaan, agenda ini menjadi ruang temu antara ingatan kampung halaman dan kehidupan urban yang terus bergerak.
Rencana pagelaran semalam suntuk itu mengemuka dalam pertemuan rutin sekaligus Halal Bihalal keluarga besar Papeling Korwil Bandung, Minggu (12/04/2026). Ketua Korwil Bandung, Amin Maulana, menyebut pertunjukan akan digelar pada Sabtu, 20 Juni 2026 mendatang dengan menghadirkan dua generasi dalang asal Purbalingga.
“Ini bukan sekadar hiburan, tetapi cara kami merawat akar budaya,” ucapnya di Bandung, Minggu (12/4/2026).
Dua nama yang akan tampil adalah dalang muda Ki Wanda Yudasmara (21) dari Tejasari dan dalang cilik Affan (9) dari Selakambang, Kecamatan Kaligondang. Kehadiran keduanya menjadi simbol regenerasi sekaligus kesinambungan tradisi pedalangan di tengah tantangan zaman.
Ruang Rindu dan Identitas
Bagi komunitas perantau, kesenian tradisi seperti wayang kulit bukan hanya tontonan, melainkan juga tuntunan dan pengikat identitas. Di kota seperti Bandung yang multikultural, ruang ekspresi budaya lokal menjadi penting untuk menjaga keberagaman tetap hidup.
Papeling menghadirkan tema “Aksi – Kolaborasi – Jatidiri” dalam perayaan 10 tahun ini. Tema tersebut mencerminkan upaya konkret komunitas untuk tetap hadir dan berkontribusi, tidak hanya sebagai kelompok perantau, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem budaya di kota tujuan.
“Aksi adalah wujud nyata kami. Kolaborasi berarti kami tidak berjalan sendiri, dan jati diri adalah alasan mengapa ini semua penting,” kata Amin.
Nilai kolaborasi tampak dalam pelibatan seniman lokal Bandung, khususnya dalam penyediaan gamelan serta kru pendukung. Interaksi lintas budaya ini memperlihatkan bahwa tradisi tidak bersifat eksklusif, melainkan dapat tumbuh melalui dialog dan kerja sama.
Ragam Seni dan Rasa Kampung Halaman
Selain wayang kulit, rangkaian acara juga akan menampilkan seni karawitan dari Papeling wilayah Jabodetabek serta pertunjukan musik tek-tek kentongan khas Purbalingga yang telah menjadi identitas kultural tersendiri. Tidak ketinggalan, bazar kuliner khas Purbalingga akan dihadirkan sebagai pelengkap pengalaman budaya.
Kehadiran kuliner tradisional menjadi elemen penting dalam menghadirkan suasana kampung halaman. Aroma, rasa, dan suasana yang tercipta diharapkan mampu membangkitkan memori kolektif para perantau.
Lokasi pagelaran sendiri masih dalam tahap finalisasi, dengan salah satu opsi yang dipersiapkan berada di lingkungan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) Bandung.
Dukungan dan Harapan
Dukungan terhadap kegiatan ini datang dari pengurus pusat Papeling. Ketua Umum Papeling, Izroil, menyampaikan apresiasi atas inisiatif Korwil Bandung yang dinilai konsisten dalam menjaga budaya daerah.
“Ini bukan hanya kebanggaan Bandung, tetapi juga seluruh perantau Purbalingga,” jelas Amin.
Ia menegaskan bahwa pengurus pusat siap mendukung penuh agar kegiatan tersebut berjalan sukses dan menjadi inspirasi bagi wilayah lain. Selain itu, ia juga mengingatkan pentingnya menjaga eksistensi kesenian khas seperti tek-tek kentongan agar tidak tergerus arus globalisasi.
Kebersamaan Yang Terawat
Pertemuan yang dihadiri sekitar 50 anggota Papeling Korwil Bandung itu juga menjadi ajang mempererat silaturahmi pasca-Ramadan. Suasana hangat dan akrab terasa sepanjang acara, mencerminkan kuatnya solidaritas komunitas.
Dalam kesempatan tersebut, turut dilaporkan keberhasilan program sosial Sedekah Akbar Papeling (SEDAP) yang berhasil menghimpun dana lebih dari Rp169 juta dan telah disalurkan kepada lebih dari seribu penerima manfaat di Kabupaten Purbalingga.
Selain itu, inovasi digital juga mulai diadopsi melalui sistem donasi berbasis QRIS untuk memudahkan anggota dalam berkontribusi.
Di balik seluruh rangkaian kegiatan, satu benang merah yang terasa kuat adalah semangat menjaga warisan budaya di tengah kehidupan perantauan. Wayang kulit yang akan dipentaskan bukan sekadar seni pertunjukan, melainkan simbol ingatan, identitas, dan harapan agar nilai-nilai tradisi tetap hidup lintas generasi.








