Bandung (BRS) – Keinginan untuk memperbesar usaha sering kali menjadi target utama para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Namun, memiliki banyak cabang atau omzet besar ternyata bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Untuk benar-benar naik kelas, UMKM perlu membangun fondasi bisnis yang kuat, mulai dari sistem operasional, pengelolaan keuangan, hingga pemanfaatan teknologi.
Pesan itu mengemuka dalam peluncuran riset “UMKM Handbook: Panduan UMKM Naik Level” yang dilakukan Polytron bersama Populix di Bandung, Kamis (18/6/2026). Kegiatan yang diikuti ratusan pelaku UMKM tersebut menjadi wadah berbagi wawasan mengenai langkah-langkah konkret agar usaha dapat tumbuh lebih sehat dan berkelanjutan.
Hasil riset menunjukkan sebagian besar pelaku UMKM di Indonesia merupakan para perintis usaha. Sekitar 80 persen responden membangun bisnis dari nol dengan modal dan pengalaman yang terbatas. Di sisi lain, semangat berwirausaha yang tinggi belum selalu dibarengi dengan kesiapan sistem pengelolaan usaha.
Banyak pelaku UMKM masih beranggapan bahwa membuka cabang baru adalah simbol keberhasilan. Padahal, ekspansi yang dilakukan tanpa sistem dan standar operasional yang jelas justru berisiko menimbulkan masalah baru.
Data riset mengungkapkan hampir separuh pelaku UMKM masih melakukan pencatatan transaksi secara manual. Kondisi tersebut membuat pemilik usaha kesulitan memantau arus kas, mengevaluasi performa bisnis, hingga mengambil keputusan berdasarkan data.
Selain persoalan sistem, tantangan lain yang masih membayangi adalah keterbatasan sumber daya manusia. Sebagian besar UMKM mikro hanya memiliki satu hingga dua karyawan yang harus mengerjakan berbagai tugas sekaligus. Situasi ini kerap menyebabkan pelayanan menjadi lambat, terutama saat permintaan pelanggan meningkat.
Pakar Sistem Operasional Industri dan Digital Marketing dari Telkom University, Dr. Ir. Yati Rohayati, M.T., menilai transformasi digital menjadi salah satu langkah penting agar UMKM dapat berkembang lebih cepat.
“UMKM perlu mulai menyusun SOP dan mendigitalisasi proses kerja agar operasional lebih efisien, mudah dipantau, serta mampu mendukung pertumbuhan usaha dalam jangka panjang,” ucapnya.
Menurut Yati, pelaku usaha juga perlu menerapkan strategi omnichannel dengan mengintegrasikan berbagai kanal penjualan, mulai dari toko fisik, media sosial, marketplace, hingga layanan pesan antar. Pendekatan tersebut memungkinkan pelaku usaha menjangkau lebih banyak konsumen sekaligus meningkatkan peluang pembelian berulang.
Sementara itu, pelaku usaha kuliner sekaligus pendiri Terve Chocolate dan Let’s Go Gelato, Aprilia Melisa, menekankan pentingnya efisiensi dalam setiap aspek bisnis. Ia mengaku pemanfaatan teknologi membantu usahanya menjaga kualitas pelayanan sekaligus mengendalikan biaya operasional.
“Pertumbuhan usaha harus dibangun dengan sistem yang rapi. Teknologi membantu pelaku usaha bekerja lebih efektif dan memahami kebutuhan pelanggan dengan lebih baik,” katanya.
Melalui hasil riset tersebut, Polytron memperkenalkan empat pilar utama bagi UMKM yang ingin naik kelas. Pertama, memperkuat konsep usaha agar memiliki identitas yang jelas. Kedua, membangun sistem kerja yang lebih modern dan terukur. Ketiga, berinvestasi pada aset yang mendukung produktivitas jangka panjang. Keempat, melakukan ekspansi secara bertahap sesuai kapasitas bisnis.
Polytron juga menghadirkan program pendampingan yang mencakup pelatihan, edukasi, hingga dukungan perangkat usaha untuk membantu UMKM memperkuat fondasi bisnis mereka.
Dengan pendekatan tersebut, UMKM didorong untuk tidak hanya mengejar pertumbuhan omzet, tetapi juga membangun usaha yang lebih profesional, efisien, dan berkelanjutan. Sebab, naik kelas bukan sekadar soal menjadi lebih besar, melainkan menjadi lebih siap menghadapi persaingan dan peluang di masa depan.







