Sukma dan Ajeng Kembali Mengudara, Dua Elang Brontok Pulang ke Hutan Papandayan

Minggu, 28 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Garut (BRS) – Setelah bertahun-tahun hidup dalam perawatan manusia, Sukma dan Ajeng akhirnya kembali mengepakkan sayap menuju rumah mereka. Dua ekor elang brontok (Nisaetus cirrhatus) betina itu resmi dilepasliarkan di kawasan hutan konservasi Taman Wisata Alam (TWA) Papandayan, Kabupaten Garut, Sabtu (27/6/2026), menandai akhir perjalanan panjang rehabilitasi sekaligus awal kehidupan baru di alam liar.

Pelepasliaran kedua satwa dilindungi tersebut menjadi bagian dari kegiatan Sinergi Bersama untuk Alam Lestari dalam rangka menyambut Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2026. Kegiatan itu merupakan kolaborasi Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat, Taman Satwa Cikembulan Garut, dan PT Star Energy Geothermal Darajat sebagai wujud komitmen bersama menjaga kelestarian satwa liar.

Kepala Bidang Teknis BBKSDA Jawa Barat, Andri Hansen Siregar, menjelaskan Sukma dan Ajeng bukan satwa yang langsung dilepas begitu saja. Keduanya merupakan hasil evakuasi tim rescue BBKSDA Jawa Barat pada 2021 sebelum menjalani rehabilitasi secara intensif di Taman Satwa Cikembulan sejak 2023.

Selama proses tersebut, kedua elang menjalani pemeriksaan kesehatan, pemulihan kondisi fisik, hingga pengamatan perilaku untuk memastikan kemampuan berburu dan bertahan hidup di habitat alaminya kembali pulih.

“Tim rescue mengevakuasi kedua elang ini pada 2021. Setelah menjalani rehabilitasi sejak 2023, kami melakukan serangkaian penilaian kesehatan dan perilaku. Ketika secara medis maupun perilaku dinyatakan mampu bertahan hidup di alam liar, hari ini keduanya kami lepasliarkan,” kata Andri.

Menurutnya, pelepasliaran satwa liar merupakan tujuan akhir dari proses konservasi. Karena itu, BBKSDA Jawa Barat mengapresiasi Taman Satwa Cikembulan yang konsisten mendukung upaya mengembalikan satwa hasil penyelamatan ke habitat aslinya.

Ia mengakui, tidak semua lembaga konservasi bersedia melepasliarkan kembali satwa yang telah dirawat. Padahal, pengembalian satwa ke alam merupakan salah satu indikator keberhasilan konservasi.

“Kami mengapresiasi dedikasi Taman Satwa Cikembulan dalam mendukung program pelestarian satwa liar. Tidak semua lembaga konservasi bersedia melepasliarkan kembali satwa yang mereka rawat. Kami berharap kolaborasi ini terus berlanjut demi menjaga kelestarian satwa di Jawa Barat,” ujarnya.

Manager Taman Satwa Cikembulan, Rudy Arifin, mengatakan keberhasilan pelepasliaran Sukma dan Ajeng merupakan hasil proses panjang yang melibatkan berbagai pihak, termasuk dokter hewan yang terus memantau perkembangan kesehatan dan perilaku kedua elang.

Salah satu tahapan penting selama rehabilitasi adalah mengembalikan naluri berburu satwa tersebut. Untuk itu, elang dilatih menangkap mangsa hidup agar kemampuan alaminya tetap terjaga ketika kembali ke hutan.

“Kami melatih insting berburu mereka dengan memberikan pakan berupa satwa hidup. Tujuannya agar kemampuan berburu yang dibutuhkan saat kembali ke alam liar tetap terasah,” tutur Rudy.

Ia menambahkan, hingga kini Taman Satwa Cikembulan masih merawat sedikitnya 20 ekor elang dari berbagai jenis. Jika seluruh persyaratan terpenuhi, bukan tidak mungkin satwa-satwa tersebut akan mengikuti jejak Sukma dan Ajeng kembali ke habitat alaminya.

“Kami berterima kasih kepada BBKSDA yang selama ini membimbing kami, juga kepada Star Energy yang terus memberikan dukungan terhadap program konservasi. Semua ini dapat terlaksana karena kami memiliki visi yang sama dalam menjaga kelestarian lingkungan,” katanya.

Sementara itu, SHS Specialist Star Energy Darajat, Muhamad Riyadi, menegaskan dukungan perusahaan terhadap kegiatan konservasi merupakan bagian dari komitmen menjaga keberlanjutan lingkungan di sekitar wilayah operasional.

Selain mengembangkan energi panas bumi yang ramah lingkungan, perusahaan juga aktif mendukung berbagai program pelestarian keanekaragaman hayati melalui kolaborasi dengan para pemangku kepentingan.

“Kami memiliki visi yang sama dalam konservasi sumber daya alam. Karena itu, ketika bertemu dengan BBKSDA dan Taman Satwa Cikembulan, kami sepakat untuk bersama-sama mendukung pelepasliaran satwa liar sebagai bagian dari upaya menjaga kelestarian alam,” tutup Riyadi.

 

Gambar atas: Ilustrasi AI

Berita Terkait

Industri Kedirgantaraan Butuh SDM Siap Pakai, PTDI Perkuat Pusat Pelatihan
GI Jampang Kulon Kembali Beroperasi, Ekonomi Selatan Sukabumi Didorong Makin Tumbuh
PTDI Rayakan 50 Tahun Hadirkan Wayang Golek dan Wayang Kulit
Bandung Great Sale Raup Omzet Rp1,52 Miliar Dalam Tiga Hari
HUT ke-50 PTDI Diisi Aksi Sosial, dari UMKM Hingga Donor Darah
Pasar Baru Bandung dan Pecinan Lama Siap Disulap Jadi Pusat Kuliner
Kemarau Panjang Picu Krisis Air Bersih di Priangan Timur
TPSOS Gedebage Siap Olah 300 Ton Sampah per Hari

Berita Terkait

Minggu, 30 Agustus 2026 - 13:09 WIB

Industri Kedirgantaraan Butuh SDM Siap Pakai, PTDI Perkuat Pusat Pelatihan

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 13:09 WIB

GI Jampang Kulon Kembali Beroperasi, Ekonomi Selatan Sukabumi Didorong Makin Tumbuh

Jumat, 28 Agustus 2026 - 13:07 WIB

PTDI Rayakan 50 Tahun Hadirkan Wayang Golek dan Wayang Kulit

Kamis, 27 Agustus 2026 - 13:06 WIB

Bandung Great Sale Raup Omzet Rp1,52 Miliar Dalam Tiga Hari

Rabu, 26 Agustus 2026 - 13:05 WIB

HUT ke-50 PTDI Diisi Aksi Sosial, dari UMKM Hingga Donor Darah

Berita Terbaru

BERITA UTAMA

PTDI Rayakan 50 Tahun Hadirkan Wayang Golek dan Wayang Kulit

Jumat, 28 Agu 2026 - 13:07 WIB

BERITA UTAMA

Bandung Great Sale Raup Omzet Rp1,52 Miliar Dalam Tiga Hari

Kamis, 27 Agu 2026 - 13:06 WIB

BERITA UTAMA

HUT ke-50 PTDI Diisi Aksi Sosial, dari UMKM Hingga Donor Darah

Rabu, 26 Agu 2026 - 13:05 WIB