Dari Sumenep ke Surakarta, Hendriyanto Attan Dianugerahi Gelar Kanjeng Raden Haryo

Minggu, 6 September 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Solo (BRS) – Perjalanan seorang putra Sumenep, Madura, Hendriyanto Attan, S.Psi., M.M., memasuki babak baru. Aktivis muda Nahdlatul Ulama (NU) yang selama ini aktif di organisasi, dunia profesional, hingga ruang pengabdian sosial-kebangsaan tersebut resmi dianugerahi gelar kehormatan Kanjeng Raden Haryo (KRH) Hendriyanto Attan Dharmawisisesa dari Karaton Surakarta Hadiningrat.

Penganugerahan itu ditetapkan melalui Kakancingan Angka 313/KS/08/26 yang dikeluarkan Pengageng Parentah Karaton Surakarta Hadiningrat. Dalam dokumen tersebut, Hendriyanto Attan dianugerahi pangkat Riya Nginggil.

Penetapan itu tertanggal 31 Wulan Agustus Tahun 2026, bertepatan dengan 17 Mulud Tahun Be 1960 dalam penanggalan Jawa. Dokumen ditandatangani Sinoehoen Tedjowoelan dan dilengkapi cap resmi Karaton Surakarta Hadiningrat.

Bagi tradisi keraton, gelar tersebut bukan sekadar tambahan nama atau simbol kehormatan. Di dalamnya terdapat amanah untuk menjunjung nilai-nilai luhur budaya Jawa, menjaga martabat serta kehormatan keraton, dan membawa nilai-nilai tersebut dalam kehidupan bermasyarakat.

Pemberian gelar kepada Hendriyanto juga menjadi bentuk penghormatan Karaton Surakarta Hadiningrat atas dedikasi, pengabdian, serta kontribusinya yang dinilai sejalan dengan nilai-nilai adiluhung budaya Jawa.

Dengan penganugerahan tersebut, Hendriyanto kini resmi menyandang nama kehormatan Kanjeng Raden Haryo Hendriyanto Attan Dharmawisisesa, S.Psi., M.M.

Ada pertemuan sejarah yang menarik di balik penganugerahan tersebut. Hendriyanto lahir dan tumbuh di Sumenep, Madura, daerah yang juga memiliki sejarah panjang tradisi keraton.

Selama ini, pembicaraan mengenai keraton di Pulau Jawa kerap berpusat pada Yogyakarta dan Surakarta. Namun, di ujung timur Madura, Sumenep memiliki jejak kerajaan yang tidak kalah panjang. Keraton Sumenep pernah menjadi pusat pemerintahan para raja dan menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah serta kebudayaan Madura.

Salah satu nama yang lekat dengan sejarah awal Sumenep adalah Arya Wiraraja. Dalam tradisi sejarah lokal, ia dikenal sebagai adipati pertama Sumenep dan dikaitkan dengan tanggal 31 Oktober 1269 yang kemudian menjadi dasar penetapan hari jadi Kabupaten Sumenep.

Arya Wiraraja juga dikenal memiliki kemampuan membaca situasi politik dan menyusun strategi. Namanya bahkan tercatat dalam sejarah Nusantara melalui keterkaitannya dengan Raden Wijaya dan proses berdirinya Majapahit, termasuk dalam menghadapi pasukan Tartar dari Mongol.

Jejak panjang tersebut menjadi bagian dari identitas kultural Sumenep—daerah yang tumbuh dengan tradisi kerajaan, tetapi juga memiliki pengalaman panjang dalam menghadapi perubahan zaman.

Dari lingkungan itulah perjalanan Hendriyanto kemudian berkembang ke berbagai ruang pengabdian.

Di organisasi NU, ia dikenal sebagai aktivis muda dan dipercaya menjabat Wakil Ketua Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) PBNU. Ia juga dipercaya sebagai Wakil Bendahara Majelis Nasional KAHMI.

Kiprahnya juga merambah dunia profesional. Hendriyanto tercatat dipercaya sebagai advisor di sejumlah BUMN, di antaranya PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum), PT Aneka Tambang (Antam), PT Timah, PT Pupuk Indonesia, PT Waskita Karya, dan PT Pos Indonesia.

Pengalaman tersebut mempertemukan tiga ruang yang menjadi bagian dari perjalanan Hendriyanto: organisasi, profesionalisme, dan pengabdian sosial-kebangsaan.

Karena itu, gelar Kanjeng Raden Haryo yang kini disandangnya membawa makna lebih luas dari sekadar penghormatan personal. Gelar tersebut sekaligus menjadi amanah kultural untuk menjaga nilai-nilai luhur tradisi keraton agar tetap memiliki relevansi dalam kehidupan masyarakat modern.

Bagi putra Sumenep, penghormatan dari Karaton Surakarta Hadiningrat itu juga menjadi pertemuan dua tradisi. Dari tanah Madura yang memiliki sejarah keratonnya sendiri, Hendriyanto kini menerima amanah kehormatan dari salah satu pusat kebudayaan Jawa.

Nama Kanjeng Raden Haryo Hendriyanto Attan Dharmawisisesa pun menjadi bagian dari perjalanan tersebut—membawa identitas Sumenep, pengalaman aktivisme NU, kiprah profesional, sekaligus amanah budaya yang kini melekat di pundaknya.

Berita Terkait

Jababeka Gelar Pelatihan Pemanfaatan AI dan Drone untuk Pelaporan Keberlanjutan bersama President University dan University of Southern Queensland
Dari Loket ke Satu Aplikasi, Cara Masyarakat Naik Kereta Terus Berubah
GIIAS Bandung 2026 Padukan Otomotif, Diecast, dan Musik di Akhir Pekan
Warga Keluhkan Halte BRT di Tengah Jalan, Pemkot Bandung Desak Sosialisasi Diperkuat
PLN Kenalkan Gaya Hidup Serba Listrik Di GIIAS Bandung, Dari Home Charging Hingga Smart Home
Program Poe Ibu Sukses Renovasi 18 Rutilahu di Garut
Wagub Jabar Targetkan 27 Kabupaten/Kota Terakses Perlindungan Sosial Digital pada 2027
Besok GIIAS Bandung 2026 Dibuka, Hadirkan Merek Baru dan Sediakan Area Parkir Luas

Berita Terkait

Selasa, 15 September 2026 - 16:59 WIB

Jababeka Gelar Pelatihan Pemanfaatan AI dan Drone untuk Pelaporan Keberlanjutan bersama President University dan University of Southern Queensland

Selasa, 15 September 2026 - 08:46 WIB

Dari Loket ke Satu Aplikasi, Cara Masyarakat Naik Kereta Terus Berubah

Senin, 14 September 2026 - 08:45 WIB

GIIAS Bandung 2026 Padukan Otomotif, Diecast, dan Musik di Akhir Pekan

Minggu, 13 September 2026 - 08:43 WIB

Warga Keluhkan Halte BRT di Tengah Jalan, Pemkot Bandung Desak Sosialisasi Diperkuat

Jumat, 11 September 2026 - 08:41 WIB

Program Poe Ibu Sukses Renovasi 18 Rutilahu di Garut

Berita Terbaru

BEKASI TERKINI

Pertamina dan Jababeka Lanjutkan Kolaborasi Menuju Net Zero Emission

Sabtu, 10 Okt 2026 - 05:48 WIB